Resume
”Upaya Orang Tua Untuk Mengembangkan Kesadaran Anak Terhadap Dasar-Dasar Kedisiplinan”
Oleh:
Widy Ayuningsih 14111241009
Evania Istiqomah 14111241042
Nurlaila Rahmawati S 14111241049
Sholihah Nur A 14111241050
Salsa Rosalina 14111241051
Mufida Nur M 14111241052
Nur Ulfatin A 14111241059
Itsnaini Asfiyaturrofiah 14111244001
Resti Mia W 14111244016
Bina Rahmidya S 14111244025
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
2016/2017
Apresiasi Anak terhadap Upaya Orang Tua dalam Membantu Memiliki dan Mengmbangkan Nilai-nilai Moral Berdasarkan Kata Hati
Keakraban Anak dalam Nilai-nilai moral
Keakraban nilai-nilai moral membuktikan bahwa upaya orang tua dalam membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan nilai-nilai moral, harus dibangun dan dikembangkan orang tua atas dasar beberapa hal. Antara lain ;
Keteladanan diri
Rasa kebersamaan dalam merealisasikan nilai-nilai moral
Keharmonisan hubungan orang tua (ayah-ibu)
Kemesraan hubungan orang tua dengan anak
Perlibatan anak dalam dalam penataan lingkungan keluarga
Latihan dan pembiasaan anak anak sejak usia dini dalam merealisasikan nilai-nilai moral
Kosistensi dan kesatuan perilaku orang tua
Penciptaan suasana keterbukaan komunikasi dialogis
Soleman (1985) menyatakan bahwa anak yang merasakan keamanan dan keterlindungan karena penghayatan terhadap situasi dan kondisi, dan penghayatannya terhadap penampilan fisik, akan melahirkan rasa memiliki dalam dirinya.
Rutter (178,108-110) menyatakan bahwa hubungan baik yang terjalin antara anak dengan orang tua dan antara ayah dengan ibu dapat mencegah anak berperilaku agresif. Hal ini menunjukan bahwa situasi dan kondisi keluarga yang positif, yang di ciptakan oleh orang tua, dapat membuat anak untuk memiliki dan mengembangkan perilaku taat moral, yang bisa menjadi benteng bagi dirinya untuk tidak berperilaku agresif atau tidak berdisiplin diri.
Nilai-nilai sosial
Kesantunan hubungan antara anak dengan orang tua dan sesama saudara adalah saling membantu yang didasari rasa kebersamaan, menghargai pendapat orang lain, serta kerelaan berkorban demi kepentingan keluarga. Hal ini sesuai dengan yang senantiasa diupayakan oleh orang tua, baik melalui teladan, komunikasi keluarga yang ditegakkan atas dasar sikap saling menghargai dan penuh keintiman, maupun konsistensi berperilaku dan kesantunan terhadap sesama anggota keluarga dan orang lain.
Nilai-nilai sosial yang di bangun dan ditegakan atas dasar cinta, simpatik, persahabatan, dan solidaritas, dapat membuat anak merasakan kepemilikan dirinya terhadap nilai-nilai sosial. Komunikasi yang penuh keterbukaan, keakraban dan keintiman di dalam keluarga merupakan menanamkan rasa kepemilikan dan pengembangan nilai-nilai sosial ke dalam diri anak. Alisjahbana (1973)
Ada dua cara menjadikan komunikasi sebagai sarana untuk mengupayakan anak agar memiliki nilai-nilai sosial menurut Nelson (1991). Pertama mengkomunikasikan anak dengan perilaku dan contoh-contoh yang ditampilkan orang tua. Kedua, berkomunikasi kepada anak dengan sesuatu yang bernuansa nonverbal, seperti sentuhan, gerakan, dan ekspresi perasaan.
Menurut Soeleman (1985;1988 dan 1994), Duval (1970), Watson dan Thap (1981) dan Savage (1991) memandang bahwa hubungan sosial, cara berkomunikasi keluarga dapat dilakukan melalui gerak, sentuhan, belaian, senyuman, mimik, dan ungkapan kata. Dengan pola komunikasi yang demikian dapat menumbuhkan kepekaan psikologis dan emosional anak.
Kehadiran orang tua akan tetap dirasakan dalam ketidak hadirannya (present in absent),karena setiap tindakan pendidikan senantiasa menuntut adanya hubungan antar manusia.
Nilai-Nilai Ilmiah
Beberapa upaya orang tua untuk mengembangkan nilai-nilai ilmiah pada anak sehingga anak sadar terhadap urgensi sebuah nilai atau prestasi adalah dengan mereka terlibat dalam menata fisik dan suasana belajar, adanya kesatuan tindakan orang tua, akrab, harmonis, terbuka, rela menyediakan waktu untuk mendekati anak ketika belajar,adanya tanggapan orang tua terhadap kebutuhan anaknya dalam belajar, dan komunikasi keluarga yang penuh dialog, latihan dan pembiasaan diri. Orang tua juga perlu membantu anaknya untuk memilih dan memiliki sahabat yang rajin belajar di sekolah dan di luar sekolah.
Realisasi dari apresiasi anak untuk memiliki nilai-nilai ilmiah adalah dengan prestasi belajar yang tinggi dan ketekunan dalam belajar. Hal ini terwujud atas dasar kesadaran diri anak untuk selalu berprestasi dan menuntut ilmu.
Nilai-Nilai Ekonomi
Anak yang memiliki nilai-nilai ekonomi dapat dilihat dari perilakunya. Anak akan menampilkan perilaku beretos kerja, mulai memahami dan mengerti terhadap arti uang dan upaya mendapatkannya, tumbuhnya perilaku hemat, mandiri dalam menata keuangan pribadi, serta menghargai arti sebuah jerh payah atau kerja keras.
Upaya orang tua untuk mengembangkan nilai ekonomi dalam diri anak dapat melalui ketekunan dan konsistensi orang tua dalam mencari, menata dan menggunakan keuangan keluarga serta dikomunikasikan dengan anak. Anak juga dapat dilibatkan dalam usaha mencari uang, transparansi dalam keuangan keluarga, serta melatih dan membiasakan anak menata keuangan pribadi. Hal ini dapat dilakukan guna membangun kesadaran empati anak.
Goleman(1995) menyatakan bila orang tua mampu mengetahui dan menata emosi diri, memotivasi diri, mengakui samudra emosi orang lain (anak-anaknya), dapat memelihara hubungan yang akrab, intim dan harmonis dengan anak, dapat mempertautkan perasaannya dengan anak-anaknya maka anak akan dapat menginternalisasi nilai ekonomi yang diupayakan orang tua. Hal ini akan melahirkan keterpanggilan bagi anak untuk belajar memiliki dan mengembangkan berdasarkan kata hati.
Soeleman (1994) menyatakan bahwa anak senantiasa berorientasi dan beridentifikasi pada pola hidup keluarganya(orang tua). Pernyataan ini didukung oleh Pinnells (Wayson, 1985: 232) yang menyatakan bahwa kemauan anak untuk saling merasakan dan partisipasi dalam meningkatkan pergumulan dengan nilai-nilai pada setiap pribadi dalam keluarga akan melahirkan perasaan dan apresiasi bersama terhadap nilai moral.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulakan bahwa upaya menanamkan dan mengembangkan nilai moral pada anak adalah diawali dengan menata dan mengelola pola hidup keluarga terutama orang tua dan kemudian orang tua membangun kedekatan serta keakraban dengan anak sehingga terdapat nilai-nilai yang dapat dirasakan oleh anak dan menumbuhkan kesadaran mereka akan nilai. Hal ini akan meningkatkan perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan.
Nilai-nilai demokrasi
Ketika seorang anak melakukan kegiatan demokrasi seperti menghargai pendapat orang lain, menghargai keputusan, mampu mengungkapkan pendapat, ikut membuat keputusan yang dihasilkan dari musyawarah (diskusi) dan menaatinya merupakan wujud dukungan anak terhadap nilai-nilai demokrasi yang diupayakan orang tuanya. Terciptanya sikap-sikap tersebut dibangun oleh orang tuanya melalui berbagai pengkondisian yang melibatkan anak-anak. Berbagai pengkondisian tersebut misalnya: mengatur ruangan (terutama ruangan belajar dan meja belajar), keterbukaan dan demokratisasi dalam kehidupan keluarga, adanya norma dan kebiasaan yang ditegakkan bersama, serta konsistensi dan kekompakan orang tua dalam perealisasiannya. Dalam pembentukan suatu sikap melalui berbagai pengkondisian sangat dibutuhkan konsistensi dan kekompakan dari kedua orang tua saat menjalankannya. Hal ini diperlukan agar anak tidak merasa bingung serta belajar mengenai tanggung jawab dalam melaksanakan suatu keputusan.
Anak akan lebih mudah untuk belajar apabila antara anak dengan orang tua telah ada suatu ikatan emosi yang baik, yakni saat apa yang diinginkan orang tua dan apa yang diinginkan oleh anak dapat menyatu dengan harmonis. Hal ini didukung oleh pernyataan Weinert dan Kluwe (1987) bahwa metakognitif anak dapat dibangun oleh orang tua dengan menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan pribadi anak tentang pengetahuan dan kepercayaan (motivasi, persepsi, dan afeksi), tugas-tugasnya, strategi untuk memiliki kemampuan pribadi, dan menyadari tugas-tugasnya.
Nilai-nilai kebersihan dan keteraturan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang mampu menjaga keteraturan dan kebersihan ruangan, menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan menjaga kesucian tempat ibadah berarti telah memiliki nilai-nilai kebersihan dan keteraturan didalam diri dan kehidupannya merupakan atas dasar keinginannya sendiri. Sikap ini dibangun orang tua melalui kebersamaan dalam keluarga, konsistensi, keteladanan orang tua, latihan, dan pembiasaan diri. Disamping itu, dapat diupayakan juga melalui penataan dan penegakan norma dan kebiasaan keluarga atas dasar konfirmitas dan transaksional seluruh anggota keluarga. Misalnya kesepakatan penggunaan handphone oleh anak hanya boleh pada hari minggu, mengucapkan salam setiap masuk dan keluar dari rumah, mencuci piring sendiri setiap selesai makan, meletakkan sepatu pada rak sepatu, dll.
Hasil temuan tersebut sejalan dengan pernyataan Balson (1991) bahwa mengupayakan anak agar memiliki dan mengembangkan nilai-nilai moral kebersihan dan keteraturan seyogiyanya dengan mendialogkan konsekuensi-konsekuensi behavioral (alamiah maupun logika) terhadap segala perilaku atau tindakan yang diambilnya (Bdk. Herry & Papper, 1985). Contoh dari konsekuensi behavioral yaitu anak akan merasa gatal ketika tidak mandi setelah bermain seharian, anak akan bingung mencari mainannya ketika mainan itu tidak dibereskannya sendiri, anak akan mudah terkena cacingan ketika tidak mencuci tangan sebelum makan, sesudah buang air, dan berbagai aktivitas bermain, dll.
Nilai-nilai Agama
Anak mengapresiasikan diriya dalam nilai-nilai agama melalui solat, mengaji, belajar, patuh terhadap orang tua, menjaga kebersihan, da lain-lain. Apresiasi anak terhadap nilai-nilai agama tidak selal berhubungan dengan Yang Maha Kuasa, namun bisa juga dengan sesame manusia, anggota keluarga, maupun diri sendiri. Orang tua dapat mengembangkan nilai keagamaan anak melalui kebersamaan diantara anggota keluarga, konsistensi dan kesatuan anak dengan orang tua, dan diskusi tentang keagamaan.
Alisjahbana (1974) menyatakan bahwa hanya manusia yang ampu mengejawantahkan agaa dalam kehidupannya yang akan menduduki singgasana kebesaran dan keagungan martabat manusia. Bagi mereka, agama merupakan kitab hidup bagi kekudusan dan ketentraman hidupnya. Sementara itu, Soelaeman (1988) berpendapat bahwa manusia yang mampu beraudiansi dengan Khaliqnya, dari dalam dirinya akan memancar aura keyakinan dan kesadaran diri terhadap keberagamannya. Bahkan, dalam seluruh gerak kehidupannya, dia tidak pernah melepaskan mata batin dan hatinya. Dia yakin bahwa eksistensi kediriannya senantiasa berada dalam hubungan dan pengetahuan Alkhaliq. Sayekti (1991), dalam penelitiannya juga menemukan bahwa nilai agama sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan keluarga.
Apresiasi Anak terhadap Upaya Orang Tua dalam Membantu Memiliki dan Mengembangkan Nilai-nilai Moral Berdasarkan Nalar
Keberumahan Anak dalam Nilai-nilai Moral
Temuan penelitian menunjukkan bahwa betah atau tidaknya anak saat berada dirumah adalah wujud apresiasi anak terhadap keakrabannya dengan nilai-nilai moral berdasarkan nalar. Di satu pihak, anak tetap menganggap bahwa rumah dapat menjadi tempat terpenuhinya kebutuhan fisik, namun di lain pihak mereka menganggap realitas keluarga yang penuh kontradiktif tidak dapat memberikan perasaan keterlindungan dan kedamaian bagi dirinya.
Ketika keadaan keluarga kurang harmonis dan tidak ada komunikasi antar keluarga, wajar bila anak melakukan perilaku menyimpang seperti teman sebayanya. Dalam suasana keluarga yang demikian, anak akan bingung untuk melakukan imitasi dan identifikasi diri terhadap perilaku orang tuanya. Dengan demikian, kepercayaan dan wibawa orang tua mulai memudar dan tidak memberikan contoh yang baik bagi anak.
Soelaeman (1985) menyatakan bahwa kontradiktif perilaku orang tua yang dirasakan oleh anak-anak dapat melemahkan kepercayaan terhadap diri mereka, karena orang tua kurang dapat menjadi figure ideal. Apapun upaya orang tua untuk menanamkan kepemilikan dalam nilai-nilai moral pada diri anak, hanya akan menjadi konsmsi nalar/logis yang masih mereka pertanyakan kebenarannya.
Nilai-nilai Sosial
Temuan penelitian menunjukkan bahwa sikap mendua yang dilakukan anak dalam rangka memenuhi keinginan dan permintaan orangtua atau saudaranya yang terkadang mau dan terkadang tidak adalah realisasi dari nilai-nilai sosial yang ada dalam diri mereka secara nalar. Bagi anak, mereka dapat berbuat sesuatu sesuai dengan keinginannya atau sesuai dengan yang ada dalam dunianya sendiri karena mereka beranggapan bahwa orangtuanya pun sering asyik dalam dunia mereka dan seringkali mengabaikan dunia anak. Jika anak memberikan bantuan kepada orangtua atau saudaranya hal ini karena anak merasa sebagai bagian dari kehidupan orangtua dan saudaranya.
Nilai- nilai Ilmiah
Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman anak dalam menyikapi cara belajar dan menyadari manfaat- manfaat nilai ilmiah merupakan realisasi kepemilikan nilai- nilai yang diapresiasi secara naluri.
Orangtua yang sibuk sendiri dan anak merasa bahwa keberadaannya dan kepemilikan nilai- nilai ilmiah yang mereka miliki, mengakibatkan motivasi mereka rendah untuk masuk sekolah, belajar, bahkan dapat mendorongnnya untuk putus sekolah.Sikap orangtua yang sering sibuk dengan dunia mereka, pulang malam, mengakibatkan anak dapat mencontoh perilaku- perilaku dialektika orang tuanya.Apabila ada upaya pembangunan motivasi dalam nilai- nilai ilmiah lewat dialog atau dialog imperati namun orangtua tidak mencerminkan sikap tersebut maka justru dapat menimbulkan pertentangan dari anak.Pendapat ini didukung dengan pendapat Goleman (1995) yang mengatakan bahwa ucapan anggota keluarga yang kontradiktif dengan perilakunya merupakan awal terjadinya ketertutupan terhadap perasaan percaya diantara keduanya ( orang tua dan anak)
Nilai- nilai Ekonomi
Penilitian menunjukkan bahwa sikap anak dalam merespon bantuan yang diberikan orangtua dalam mencari penghidupan dalam keluarga, dan sikap mereka menerima pemberian orangtuanya merupakan realisasi kepemilikan nilai- nilai ekonomi dalam diri mereka.
Bagi seorang anak wajar apabila ia memiliki kebutuhan nilai- nilai ekonomi sesuai dengan seleranya sendiri.Kurangnya intensitas orang tua untuk melibatkan diri dalam membelajarkan anak dalam pemenuhan kebutuhan nilai- nilai ekonomi, serta diperparah dengan perilaku yang menyimpang dapat mengakibatkan anak kurang dapat mempertautkan diri dengan orangtuanya yang konsisten dalam memenuhi kebutuhan nilai- nilai ekonomi.
Nilai-nilai Demokrasi
Temuan penelitian menunjukkan bahwa sikap mendua anak terhadap otoritas orang tua, kadang-kadang menghargai otoritas orang tua dan kadang-kadang takut, merupakan kepemilikan nilai-nilai demokrasi yang diapresiasi secara nalar (logika). Jika anak melakukan perintah orang tua, hal ini lahir karena mereka merasakan bahwa orang tuanya memiliki otoritas untuk memerintah dan karena mereka merasa bagian dari kehidupan orang tua.Oleh sebab itu, pancaran aura kewibawaan dan kepercayaan orang tuA menjadi redup dan pudar dalam dirinya. Kemenduaan dunia orangtuanya (ibu konsisten dan bapak menyimpang) pun turut mendukung pembenaran terhadap nalar mereka untuk membelok kepada perilaku yang menyimpang (Goleman, 1995).
Hal demikian melahirkan sikap anak yang mengakui otoritas orang tuanya hanya karena rasa takut dan anggapan bahwa orang tua adalahbagian dari kehidupannya, akibatnya, tidak ada konfirmitas dan transaksional antara orang tua dengan anak sebagai lautan untukmengembangkan nilai nilai demokrasi. Dengan demikian tidak ada pertautan diri antara orang tua dengan anak-anak sebagaI isyarate sensual adanya keterbukaan dalam keluarga untuk mengembangkan nilai-nilai demokrasi untuk dimiliki anak.
Nilai-nilai kebersihan dan keteraturan
Sikap anak yang mendua terhadap bantuan yang diberikan ibunya (kadang mau dan kadang tida kmau) dalam menyikapi bantuan kepada ibunya tersebut masuk akal dan logis, sesuai dengan keinginannya sendiri. Hal ini disebabkan oleh gencar dan luasnya lahan dialetika baginya dalam lingkungan (bapak dan kakaknya sering asyik dengan dunianya sendiri) dan kurangnya intensitas orang tua (ibunya) dalam melibatkan mereka kedalam nilai-nilai kebersihan dan keteraturan. Hal ini wajar saja karena adanya pertarungan antaraperilaku yang taat da nperilaku menyimpang.
Jika anak membantu ibu untuk membersihkan dan mengatur ruangan, hal itu lahir pada saat nalar memberikan pembenaran bahwa ibu perlu bantuan karena merupakan bagian nalarnya membenarkan mereka untuk berasyik-asyik dengan dunianya.
Nilai-nilai agama
Anak merasakan nilai-nilai agama dalam keluarga gelap gulita sebagai hasil dialektika dari perilaku anggota keluarga yang tidak melaksanakan nilai-nilai moral dasar. Orang tua berkeinginan agar anak-anaknya memiliki nilai-nilai tersebut , tetapi mereka tetap berkutat dalam angan-angan karena terbendung oleh kemenduaan perilaku dan penyimpangan mereka terhadap nilai-nilai agama. Hal itu merupakan tabir yang sangat tebal yang menghalangi tujuan orang tua dan dirasakan oleh anak. Artinya, anak-anak tidak dapat mempertautkan diri terhadap tujuan yang diinginkan oleh orang tuanya. Tabir yang menghalangi tujuan orang tua terseruak oleh lingkungan eksternal, perlu untuk memiliki nilai-nilai agama. Terbukanya tabir tersebut kdang-kadang tertutup kembali oleh perilaku-periilaku anggota keluarga yang kontradiktif sehingga membuat mereka malas untuk melaksanakan nilai-nilai agama.
Apresiasi Anak terhadap Upaya Orang Tua dalam Membantu Memiliki dan Mengembangkan Nilai-nilai Moral Berdasarkan Naluri
Keberumahan Anak-anak dalam Nilai-nilai Moral
Temuan penelitian menunjukkan bahwa anak yang merasakan rumah hanya sebagai tempat berteduh, terminal, makan dan minta uang, merupakan apresiasi anak terhadap nilai-nilai moral berdasarkan naluri.mApresiasi anak lahir dari upaya pembenaran diri secara naluri terhadap sikap kerumahan dirinya, yaitu makan, minta uang, tempat teduh, dan terminal.
Realitas tersebut terjadi karena kehidupan keluarga yang perilaku anggotanya (terutama bapak) penuh kontradiktif sehingga tidak dapat memberikan perasaan terlindung dan kedamaian bagi anak. Oleh sebab itu, ia tidak merasa terlindungi sehingga lari pada kelompok sebayanya yang sama-sama merasakan “kepekatan nilai-nilai moral” dalam kehidupan keluarga. Ini merupakan awal dari penghayatan anak untuk membangun dunianya yang kokoh dalam berperilaku yang menyimpang. Ia memiliki perilaku tersebut dari imitasi terhadap perilaku anggota keluarga yang penuh kontradiktif, yaitu dari bapaknya yang berperilaku menyimpang dan dikukuhkan oleh perilaku temannya. Dengan demikian, lingkungan keluarga merupakan lingkungan fenomenal, yaitu lingkungan yang sepertinya berada di luar penghayatan anak yang tidak merasakan adanya kaitan sama sekali dengannya, tidak akrab dengannya, tidak terkesan, dan tidak ada pengaruh yang dirasakannya (Soelaeman 1994).
Singgih D. Gunarsa, dengan dua hasil penelitiannya (1979:20) , menyatakan bahwa anak kecanduan terhadap narkotika sebagai pelarian dari situasi dan kondisi rumah yang dirasakan hanya sebagai terminal dan tempat berteduh. Pertengkaran selalu terjadi dirumah, dan ia sering dicaci maki oleh kedua orang tua sehingga ia merasa tidak berharga di rumah.
Nilai-nilai Sosial
Bagi seorang anak yang telah memiliki bangunan diri yang menurutnya kukuh, jika orang tua atau orang lain melakukan penanaman nilai-nilai sosial yang dirasakan mendikte dirinya maka dia tidak segan-segan untuk melawan. Sebaliknya, jika ia mengikuti keinginan orang tua dan atau orang lain yang bertentangan dengan dunianya, hal itu dirasakan sebagai pelecehan terhadap dirinya sendiri dan dia merasakan harga dirinya diinjak-injak. Hal itu terjadi karena dia akan memperoleh pelecehan atau caci maki dari kelompoknya (kestabilan dalam kelebihan). Bangunan diri ini terjadi karena realitas, yaitu hasil imitasi anak dari perilaku bapaknya dan hal itu dikokohkan oleh sahabat karibnya (dalam melakukan penyimpangan nilai-nilai moral). Selanjutnya, ibu kurang dapat mempertautkan diri dengannya, karena intensitas upanya terhadap anak perempuan lebih tinggi dibandingkan kepada anak lelakinya. Oleh sebab itu, antara ia dengan orang tua dalam komunikasi tetap bersikukuh dalam dunianya masing-masing, yang kian hari semakin kokoh untuk menghuni dunianya. Mereka (anak dan orang tua) berjalan seiring bagaikan rel kereta api, tetapi tidak pernah bertemu ( senantiasa berada di persimpangan jalan).
Nilai-nilai Ilmiah
Penelitian menunjukan bahwa pemahaman anak dalam menyikapi cara belajar dan menyadari manfaat ilmu pengetahuan(tidak pernah belajar, pergi main baik di siang hari maupun malam hari sehingga putus sekolah) merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai ilmiah yang diapresiasi secara naluri.
Orang tua dirasakan tidak memperdulikan keberadaan sang anak, terutama mengenai ..... Keadaan ini diperparah oleh salah satu dari kedua orang tua (bapak) yang asyik dalam dunianya sendiri yang merupakan lahan bagi anak untuk meniru apa yang dilakukan sang bapak. Hal ini diperkuat oleh teman pergaulannya sehingga mereka malas masuk sekolah dan belajar, bahkan sampai putus sekolah.
Perilaku anak yang menyimpang, dalam hal ini yang berhubungan dengan pendidikannya, sebenarnya sangat disadari oleh sang orang tua. Maka dari itu, orang tua berusaha untuk mengembalikan anak untuk kembali rajin belajar dan masuk sekolah dengan menggunakan otoritasnya. Namun upaya orang tua dirasa percuma apabila mereka tidak bisa menjaga konsistensinya dalam berkata-kata dan dalam perbuatannya sehari-hari. Hal ini hanya akan membuat anak merasa dipaksa menuruti apa yang orang tua mereka inginkan.
Anak dan orang tua yang berada dalam lingkaran ini, jika melakukan diskusi atau berdialog, anak senantiasa merasa terusik, didikte, dan hanya akan menimbulkan perlawan dan pertentangan dari sang anak. Baik orang tua maupun anak, keduanya berdiri pada dunianya masing-masing sehingga saling mengadakan proteksi dan bahkan menutup diri. Golmen (1995) menyatakan bahwa ucapan anggota keluarga yang kontradiktif dengan perilakunya merupakan awal terjadinya ketertutupan terhadap kedekatan diantara mereka sehingga tidak dapat mendekatkan diri satu sama lain.
Nilai-nilai Ekonomi
Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa tanggapan anak dalam menyikapi cara menilai uang, anak tidak pernah terpanggil untuk belajar mencari atau mendapatkan uang dengan jerih payahnya sendiri. Bahkan mereka tidak segan untuk mengambil uang milik ibunya tanpa izin. Hal ini merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai ekonomi yang diapresiasi secara naluri.
Bagi anak yang senang melakukan hura-hura, sering mengambil uang ibunya, dan tidak pernah membantu orang tua untuk mengais rezeki, hal itu dianggap wajar oleh mereka. Penyebabnya yaitu wibawa sang ibu tertutup oleh perilaku menyimpang sang bapak. Hal ini diperparah oleh intensitas perhatian sang ibu dan pelarian anak kepada kelompok (teman bermainnya) yang justru mengajak pada kehidupan bebas yang penuh dengan hura-hura semata.
Nilai-nilai Demokrasi
Menurut penelitian menunjukan bahwa tanggapan dari anak dalam menyikapi otoritas orang tua (tidak takut dan bahkan melawan jika orang tua dianggap mengusik dunianya) merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai demokrasi yang diapresiasi secara naluri.
Seorang anak yang telah memiliki pendirian yang kuat, menurutnya wajar jika melawan orang tua atau orang lain yang dirasa suka mendikte setiap perbuatan yang ia lakukan. Sebaliknya, jika ia akan mengikuti keinginan orang tua atau orang lain yang bertentangan dengan dunianya, hal itu ia anggap sebagai melecehkan dan menginjak-injak harga dirinya. Sikap anak tersebut dibangun dari perilaku orang tua yang tertutup dan berindikasi permusuhan sehingga ditiru oleh perilaku si anak. Anak tipe ini, tidak segan-segan untuk melawan atau bertengkar jika terdapat perbedaan pendapat atau ketidaksesuaian dengan dunianya. Ini menunjukan bahwa anak tidak memiliki kemampuan untuk menerima pendapat orang lain, terutama yang bertolak belakang dengan dunianya. Hal ini sejalan dengan pendapat Nelson (1991) yang menyatakan bahwa orang tua yang tidak dapat melakukan hubungan yang intim dan penuh keterbukaan akan mengakibatkan matinya pengakuan anak terhadap otoritasnya.
Nilai-nilai Kebersihan an Keteraturan
Menurut penemuan peneliti menunjukkan bahwa tanggapan anak dalam menyikapi bahwa dirinya tidak perlu membantu orang tua dalam membersihkan rumah merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai kebersihan dan keteraturan yang di apresiasi secara naluri. Anak merasa bahwa dirinya tidak perlu melakukan hal tersebut karena menurutnya itu bukan merupakan tugasnya. Orang tua cenderung tidak tegas dan kurang percaya terhadap anak apabila anak ikut serta dalam kegiatan membersihkan dan menata ruangan. Sosok ibu yang cenderung melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa ingin dibantu oleh anak dan ayah yang tidak ikut membantu ibu membuat penyimpangan di diri anak dalam hal nilai-nilai kebersihan dan keteraturan semakin kuat. Hal tersebut terjadi karena anak meniru perilaku sang ayah yang diperkuat oleh perilaku teman-teman dekatnya.
Nilai-nilai Agama
Menurut penemuan peneliti menunjukkan bahwa tanggapan anak dalam menyikapi nilai-nilai agama (nyaris tidak salat, mengaji, puasa, dan hanya salat pada hari raya serta berani terhadap orang tua) merupakan realisasi kepemilikannya terhadap nilai agama yang diapresiasi secara naluri. Anak menganggap bahwa hal tersebut wajar karena tidak adanya stimulasi dari orang terdekat terutama orang tua dalam menanamkan nilai nilai agama. Hal tersebut diperparah dengan perilaku orang tua yang melakukan penyimpangan.Terlebih jika teman dekat anak juga melakukan penyimpangan yang sama.
Seperangkat Prinsip yang Digunakan Orang Tua yang Mampu Membantu Anak Memiliki dan Mengembangkan Dasar-dasar Disiplin Diri
Prinsip yang digunakan oleh orang tua agar mampu membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri antara lain adalah keteladanan diri, kebersamaan orang tua dan anak dalam merealisasikan nilai-nilai moral, demokratisasi dan keterbukaan dalam kehidupan dan suasana dalam keluarga, kemampuan diri untuk menghayati dunia anak, serta kesatuan perilaku dan upaya.
Dengan deikian tercipta adanya peraturan terhadap pelanggaran nilai-nilai moral yang telah dibuat dan ditaati bersama-sama dalam keluarga dan adanya kontrol terhadap perilaku anak agar dapat meningkatkan nilai-nilai moralnya.
”Upaya Orang Tua Untuk Mengembangkan Kesadaran Anak Terhadap Dasar-Dasar Kedisiplinan”
Oleh:
Widy Ayuningsih 14111241009
Evania Istiqomah 14111241042
Nurlaila Rahmawati S 14111241049
Sholihah Nur A 14111241050
Salsa Rosalina 14111241051
Mufida Nur M 14111241052
Nur Ulfatin A 14111241059
Itsnaini Asfiyaturrofiah 14111244001
Resti Mia W 14111244016
Bina Rahmidya S 14111244025
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
2016/2017
Apresiasi Anak terhadap Upaya Orang Tua dalam Membantu Memiliki dan Mengmbangkan Nilai-nilai Moral Berdasarkan Kata Hati
Keakraban Anak dalam Nilai-nilai moral
Keakraban nilai-nilai moral membuktikan bahwa upaya orang tua dalam membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan nilai-nilai moral, harus dibangun dan dikembangkan orang tua atas dasar beberapa hal. Antara lain ;
Keteladanan diri
Rasa kebersamaan dalam merealisasikan nilai-nilai moral
Keharmonisan hubungan orang tua (ayah-ibu)
Kemesraan hubungan orang tua dengan anak
Perlibatan anak dalam dalam penataan lingkungan keluarga
Latihan dan pembiasaan anak anak sejak usia dini dalam merealisasikan nilai-nilai moral
Kosistensi dan kesatuan perilaku orang tua
Penciptaan suasana keterbukaan komunikasi dialogis
Soleman (1985) menyatakan bahwa anak yang merasakan keamanan dan keterlindungan karena penghayatan terhadap situasi dan kondisi, dan penghayatannya terhadap penampilan fisik, akan melahirkan rasa memiliki dalam dirinya.
Rutter (178,108-110) menyatakan bahwa hubungan baik yang terjalin antara anak dengan orang tua dan antara ayah dengan ibu dapat mencegah anak berperilaku agresif. Hal ini menunjukan bahwa situasi dan kondisi keluarga yang positif, yang di ciptakan oleh orang tua, dapat membuat anak untuk memiliki dan mengembangkan perilaku taat moral, yang bisa menjadi benteng bagi dirinya untuk tidak berperilaku agresif atau tidak berdisiplin diri.
Nilai-nilai sosial
Kesantunan hubungan antara anak dengan orang tua dan sesama saudara adalah saling membantu yang didasari rasa kebersamaan, menghargai pendapat orang lain, serta kerelaan berkorban demi kepentingan keluarga. Hal ini sesuai dengan yang senantiasa diupayakan oleh orang tua, baik melalui teladan, komunikasi keluarga yang ditegakkan atas dasar sikap saling menghargai dan penuh keintiman, maupun konsistensi berperilaku dan kesantunan terhadap sesama anggota keluarga dan orang lain.
Nilai-nilai sosial yang di bangun dan ditegakan atas dasar cinta, simpatik, persahabatan, dan solidaritas, dapat membuat anak merasakan kepemilikan dirinya terhadap nilai-nilai sosial. Komunikasi yang penuh keterbukaan, keakraban dan keintiman di dalam keluarga merupakan menanamkan rasa kepemilikan dan pengembangan nilai-nilai sosial ke dalam diri anak. Alisjahbana (1973)
Ada dua cara menjadikan komunikasi sebagai sarana untuk mengupayakan anak agar memiliki nilai-nilai sosial menurut Nelson (1991). Pertama mengkomunikasikan anak dengan perilaku dan contoh-contoh yang ditampilkan orang tua. Kedua, berkomunikasi kepada anak dengan sesuatu yang bernuansa nonverbal, seperti sentuhan, gerakan, dan ekspresi perasaan.
Menurut Soeleman (1985;1988 dan 1994), Duval (1970), Watson dan Thap (1981) dan Savage (1991) memandang bahwa hubungan sosial, cara berkomunikasi keluarga dapat dilakukan melalui gerak, sentuhan, belaian, senyuman, mimik, dan ungkapan kata. Dengan pola komunikasi yang demikian dapat menumbuhkan kepekaan psikologis dan emosional anak.
Kehadiran orang tua akan tetap dirasakan dalam ketidak hadirannya (present in absent),karena setiap tindakan pendidikan senantiasa menuntut adanya hubungan antar manusia.
Nilai-Nilai Ilmiah
Beberapa upaya orang tua untuk mengembangkan nilai-nilai ilmiah pada anak sehingga anak sadar terhadap urgensi sebuah nilai atau prestasi adalah dengan mereka terlibat dalam menata fisik dan suasana belajar, adanya kesatuan tindakan orang tua, akrab, harmonis, terbuka, rela menyediakan waktu untuk mendekati anak ketika belajar,adanya tanggapan orang tua terhadap kebutuhan anaknya dalam belajar, dan komunikasi keluarga yang penuh dialog, latihan dan pembiasaan diri. Orang tua juga perlu membantu anaknya untuk memilih dan memiliki sahabat yang rajin belajar di sekolah dan di luar sekolah.
Realisasi dari apresiasi anak untuk memiliki nilai-nilai ilmiah adalah dengan prestasi belajar yang tinggi dan ketekunan dalam belajar. Hal ini terwujud atas dasar kesadaran diri anak untuk selalu berprestasi dan menuntut ilmu.
Nilai-Nilai Ekonomi
Anak yang memiliki nilai-nilai ekonomi dapat dilihat dari perilakunya. Anak akan menampilkan perilaku beretos kerja, mulai memahami dan mengerti terhadap arti uang dan upaya mendapatkannya, tumbuhnya perilaku hemat, mandiri dalam menata keuangan pribadi, serta menghargai arti sebuah jerh payah atau kerja keras.
Upaya orang tua untuk mengembangkan nilai ekonomi dalam diri anak dapat melalui ketekunan dan konsistensi orang tua dalam mencari, menata dan menggunakan keuangan keluarga serta dikomunikasikan dengan anak. Anak juga dapat dilibatkan dalam usaha mencari uang, transparansi dalam keuangan keluarga, serta melatih dan membiasakan anak menata keuangan pribadi. Hal ini dapat dilakukan guna membangun kesadaran empati anak.
Goleman(1995) menyatakan bila orang tua mampu mengetahui dan menata emosi diri, memotivasi diri, mengakui samudra emosi orang lain (anak-anaknya), dapat memelihara hubungan yang akrab, intim dan harmonis dengan anak, dapat mempertautkan perasaannya dengan anak-anaknya maka anak akan dapat menginternalisasi nilai ekonomi yang diupayakan orang tua. Hal ini akan melahirkan keterpanggilan bagi anak untuk belajar memiliki dan mengembangkan berdasarkan kata hati.
Soeleman (1994) menyatakan bahwa anak senantiasa berorientasi dan beridentifikasi pada pola hidup keluarganya(orang tua). Pernyataan ini didukung oleh Pinnells (Wayson, 1985: 232) yang menyatakan bahwa kemauan anak untuk saling merasakan dan partisipasi dalam meningkatkan pergumulan dengan nilai-nilai pada setiap pribadi dalam keluarga akan melahirkan perasaan dan apresiasi bersama terhadap nilai moral.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulakan bahwa upaya menanamkan dan mengembangkan nilai moral pada anak adalah diawali dengan menata dan mengelola pola hidup keluarga terutama orang tua dan kemudian orang tua membangun kedekatan serta keakraban dengan anak sehingga terdapat nilai-nilai yang dapat dirasakan oleh anak dan menumbuhkan kesadaran mereka akan nilai. Hal ini akan meningkatkan perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan.
Nilai-nilai demokrasi
Ketika seorang anak melakukan kegiatan demokrasi seperti menghargai pendapat orang lain, menghargai keputusan, mampu mengungkapkan pendapat, ikut membuat keputusan yang dihasilkan dari musyawarah (diskusi) dan menaatinya merupakan wujud dukungan anak terhadap nilai-nilai demokrasi yang diupayakan orang tuanya. Terciptanya sikap-sikap tersebut dibangun oleh orang tuanya melalui berbagai pengkondisian yang melibatkan anak-anak. Berbagai pengkondisian tersebut misalnya: mengatur ruangan (terutama ruangan belajar dan meja belajar), keterbukaan dan demokratisasi dalam kehidupan keluarga, adanya norma dan kebiasaan yang ditegakkan bersama, serta konsistensi dan kekompakan orang tua dalam perealisasiannya. Dalam pembentukan suatu sikap melalui berbagai pengkondisian sangat dibutuhkan konsistensi dan kekompakan dari kedua orang tua saat menjalankannya. Hal ini diperlukan agar anak tidak merasa bingung serta belajar mengenai tanggung jawab dalam melaksanakan suatu keputusan.
Anak akan lebih mudah untuk belajar apabila antara anak dengan orang tua telah ada suatu ikatan emosi yang baik, yakni saat apa yang diinginkan orang tua dan apa yang diinginkan oleh anak dapat menyatu dengan harmonis. Hal ini didukung oleh pernyataan Weinert dan Kluwe (1987) bahwa metakognitif anak dapat dibangun oleh orang tua dengan menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan pribadi anak tentang pengetahuan dan kepercayaan (motivasi, persepsi, dan afeksi), tugas-tugasnya, strategi untuk memiliki kemampuan pribadi, dan menyadari tugas-tugasnya.
Nilai-nilai kebersihan dan keteraturan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang mampu menjaga keteraturan dan kebersihan ruangan, menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan menjaga kesucian tempat ibadah berarti telah memiliki nilai-nilai kebersihan dan keteraturan didalam diri dan kehidupannya merupakan atas dasar keinginannya sendiri. Sikap ini dibangun orang tua melalui kebersamaan dalam keluarga, konsistensi, keteladanan orang tua, latihan, dan pembiasaan diri. Disamping itu, dapat diupayakan juga melalui penataan dan penegakan norma dan kebiasaan keluarga atas dasar konfirmitas dan transaksional seluruh anggota keluarga. Misalnya kesepakatan penggunaan handphone oleh anak hanya boleh pada hari minggu, mengucapkan salam setiap masuk dan keluar dari rumah, mencuci piring sendiri setiap selesai makan, meletakkan sepatu pada rak sepatu, dll.
Hasil temuan tersebut sejalan dengan pernyataan Balson (1991) bahwa mengupayakan anak agar memiliki dan mengembangkan nilai-nilai moral kebersihan dan keteraturan seyogiyanya dengan mendialogkan konsekuensi-konsekuensi behavioral (alamiah maupun logika) terhadap segala perilaku atau tindakan yang diambilnya (Bdk. Herry & Papper, 1985). Contoh dari konsekuensi behavioral yaitu anak akan merasa gatal ketika tidak mandi setelah bermain seharian, anak akan bingung mencari mainannya ketika mainan itu tidak dibereskannya sendiri, anak akan mudah terkena cacingan ketika tidak mencuci tangan sebelum makan, sesudah buang air, dan berbagai aktivitas bermain, dll.
Nilai-nilai Agama
Anak mengapresiasikan diriya dalam nilai-nilai agama melalui solat, mengaji, belajar, patuh terhadap orang tua, menjaga kebersihan, da lain-lain. Apresiasi anak terhadap nilai-nilai agama tidak selal berhubungan dengan Yang Maha Kuasa, namun bisa juga dengan sesame manusia, anggota keluarga, maupun diri sendiri. Orang tua dapat mengembangkan nilai keagamaan anak melalui kebersamaan diantara anggota keluarga, konsistensi dan kesatuan anak dengan orang tua, dan diskusi tentang keagamaan.
Alisjahbana (1974) menyatakan bahwa hanya manusia yang ampu mengejawantahkan agaa dalam kehidupannya yang akan menduduki singgasana kebesaran dan keagungan martabat manusia. Bagi mereka, agama merupakan kitab hidup bagi kekudusan dan ketentraman hidupnya. Sementara itu, Soelaeman (1988) berpendapat bahwa manusia yang mampu beraudiansi dengan Khaliqnya, dari dalam dirinya akan memancar aura keyakinan dan kesadaran diri terhadap keberagamannya. Bahkan, dalam seluruh gerak kehidupannya, dia tidak pernah melepaskan mata batin dan hatinya. Dia yakin bahwa eksistensi kediriannya senantiasa berada dalam hubungan dan pengetahuan Alkhaliq. Sayekti (1991), dalam penelitiannya juga menemukan bahwa nilai agama sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan keluarga.
Apresiasi Anak terhadap Upaya Orang Tua dalam Membantu Memiliki dan Mengembangkan Nilai-nilai Moral Berdasarkan Nalar
Keberumahan Anak dalam Nilai-nilai Moral
Temuan penelitian menunjukkan bahwa betah atau tidaknya anak saat berada dirumah adalah wujud apresiasi anak terhadap keakrabannya dengan nilai-nilai moral berdasarkan nalar. Di satu pihak, anak tetap menganggap bahwa rumah dapat menjadi tempat terpenuhinya kebutuhan fisik, namun di lain pihak mereka menganggap realitas keluarga yang penuh kontradiktif tidak dapat memberikan perasaan keterlindungan dan kedamaian bagi dirinya.
Ketika keadaan keluarga kurang harmonis dan tidak ada komunikasi antar keluarga, wajar bila anak melakukan perilaku menyimpang seperti teman sebayanya. Dalam suasana keluarga yang demikian, anak akan bingung untuk melakukan imitasi dan identifikasi diri terhadap perilaku orang tuanya. Dengan demikian, kepercayaan dan wibawa orang tua mulai memudar dan tidak memberikan contoh yang baik bagi anak.
Soelaeman (1985) menyatakan bahwa kontradiktif perilaku orang tua yang dirasakan oleh anak-anak dapat melemahkan kepercayaan terhadap diri mereka, karena orang tua kurang dapat menjadi figure ideal. Apapun upaya orang tua untuk menanamkan kepemilikan dalam nilai-nilai moral pada diri anak, hanya akan menjadi konsmsi nalar/logis yang masih mereka pertanyakan kebenarannya.
Nilai-nilai Sosial
Temuan penelitian menunjukkan bahwa sikap mendua yang dilakukan anak dalam rangka memenuhi keinginan dan permintaan orangtua atau saudaranya yang terkadang mau dan terkadang tidak adalah realisasi dari nilai-nilai sosial yang ada dalam diri mereka secara nalar. Bagi anak, mereka dapat berbuat sesuatu sesuai dengan keinginannya atau sesuai dengan yang ada dalam dunianya sendiri karena mereka beranggapan bahwa orangtuanya pun sering asyik dalam dunia mereka dan seringkali mengabaikan dunia anak. Jika anak memberikan bantuan kepada orangtua atau saudaranya hal ini karena anak merasa sebagai bagian dari kehidupan orangtua dan saudaranya.
Nilai- nilai Ilmiah
Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman anak dalam menyikapi cara belajar dan menyadari manfaat- manfaat nilai ilmiah merupakan realisasi kepemilikan nilai- nilai yang diapresiasi secara naluri.
Orangtua yang sibuk sendiri dan anak merasa bahwa keberadaannya dan kepemilikan nilai- nilai ilmiah yang mereka miliki, mengakibatkan motivasi mereka rendah untuk masuk sekolah, belajar, bahkan dapat mendorongnnya untuk putus sekolah.Sikap orangtua yang sering sibuk dengan dunia mereka, pulang malam, mengakibatkan anak dapat mencontoh perilaku- perilaku dialektika orang tuanya.Apabila ada upaya pembangunan motivasi dalam nilai- nilai ilmiah lewat dialog atau dialog imperati namun orangtua tidak mencerminkan sikap tersebut maka justru dapat menimbulkan pertentangan dari anak.Pendapat ini didukung dengan pendapat Goleman (1995) yang mengatakan bahwa ucapan anggota keluarga yang kontradiktif dengan perilakunya merupakan awal terjadinya ketertutupan terhadap perasaan percaya diantara keduanya ( orang tua dan anak)
Nilai- nilai Ekonomi
Penilitian menunjukkan bahwa sikap anak dalam merespon bantuan yang diberikan orangtua dalam mencari penghidupan dalam keluarga, dan sikap mereka menerima pemberian orangtuanya merupakan realisasi kepemilikan nilai- nilai ekonomi dalam diri mereka.
Bagi seorang anak wajar apabila ia memiliki kebutuhan nilai- nilai ekonomi sesuai dengan seleranya sendiri.Kurangnya intensitas orang tua untuk melibatkan diri dalam membelajarkan anak dalam pemenuhan kebutuhan nilai- nilai ekonomi, serta diperparah dengan perilaku yang menyimpang dapat mengakibatkan anak kurang dapat mempertautkan diri dengan orangtuanya yang konsisten dalam memenuhi kebutuhan nilai- nilai ekonomi.
Nilai-nilai Demokrasi
Temuan penelitian menunjukkan bahwa sikap mendua anak terhadap otoritas orang tua, kadang-kadang menghargai otoritas orang tua dan kadang-kadang takut, merupakan kepemilikan nilai-nilai demokrasi yang diapresiasi secara nalar (logika). Jika anak melakukan perintah orang tua, hal ini lahir karena mereka merasakan bahwa orang tuanya memiliki otoritas untuk memerintah dan karena mereka merasa bagian dari kehidupan orang tua.Oleh sebab itu, pancaran aura kewibawaan dan kepercayaan orang tuA menjadi redup dan pudar dalam dirinya. Kemenduaan dunia orangtuanya (ibu konsisten dan bapak menyimpang) pun turut mendukung pembenaran terhadap nalar mereka untuk membelok kepada perilaku yang menyimpang (Goleman, 1995).
Hal demikian melahirkan sikap anak yang mengakui otoritas orang tuanya hanya karena rasa takut dan anggapan bahwa orang tua adalahbagian dari kehidupannya, akibatnya, tidak ada konfirmitas dan transaksional antara orang tua dengan anak sebagai lautan untukmengembangkan nilai nilai demokrasi. Dengan demikian tidak ada pertautan diri antara orang tua dengan anak-anak sebagaI isyarate sensual adanya keterbukaan dalam keluarga untuk mengembangkan nilai-nilai demokrasi untuk dimiliki anak.
Nilai-nilai kebersihan dan keteraturan
Sikap anak yang mendua terhadap bantuan yang diberikan ibunya (kadang mau dan kadang tida kmau) dalam menyikapi bantuan kepada ibunya tersebut masuk akal dan logis, sesuai dengan keinginannya sendiri. Hal ini disebabkan oleh gencar dan luasnya lahan dialetika baginya dalam lingkungan (bapak dan kakaknya sering asyik dengan dunianya sendiri) dan kurangnya intensitas orang tua (ibunya) dalam melibatkan mereka kedalam nilai-nilai kebersihan dan keteraturan. Hal ini wajar saja karena adanya pertarungan antaraperilaku yang taat da nperilaku menyimpang.
Jika anak membantu ibu untuk membersihkan dan mengatur ruangan, hal itu lahir pada saat nalar memberikan pembenaran bahwa ibu perlu bantuan karena merupakan bagian nalarnya membenarkan mereka untuk berasyik-asyik dengan dunianya.
Nilai-nilai agama
Anak merasakan nilai-nilai agama dalam keluarga gelap gulita sebagai hasil dialektika dari perilaku anggota keluarga yang tidak melaksanakan nilai-nilai moral dasar. Orang tua berkeinginan agar anak-anaknya memiliki nilai-nilai tersebut , tetapi mereka tetap berkutat dalam angan-angan karena terbendung oleh kemenduaan perilaku dan penyimpangan mereka terhadap nilai-nilai agama. Hal itu merupakan tabir yang sangat tebal yang menghalangi tujuan orang tua dan dirasakan oleh anak. Artinya, anak-anak tidak dapat mempertautkan diri terhadap tujuan yang diinginkan oleh orang tuanya. Tabir yang menghalangi tujuan orang tua terseruak oleh lingkungan eksternal, perlu untuk memiliki nilai-nilai agama. Terbukanya tabir tersebut kdang-kadang tertutup kembali oleh perilaku-periilaku anggota keluarga yang kontradiktif sehingga membuat mereka malas untuk melaksanakan nilai-nilai agama.
Apresiasi Anak terhadap Upaya Orang Tua dalam Membantu Memiliki dan Mengembangkan Nilai-nilai Moral Berdasarkan Naluri
Keberumahan Anak-anak dalam Nilai-nilai Moral
Temuan penelitian menunjukkan bahwa anak yang merasakan rumah hanya sebagai tempat berteduh, terminal, makan dan minta uang, merupakan apresiasi anak terhadap nilai-nilai moral berdasarkan naluri.mApresiasi anak lahir dari upaya pembenaran diri secara naluri terhadap sikap kerumahan dirinya, yaitu makan, minta uang, tempat teduh, dan terminal.
Realitas tersebut terjadi karena kehidupan keluarga yang perilaku anggotanya (terutama bapak) penuh kontradiktif sehingga tidak dapat memberikan perasaan terlindung dan kedamaian bagi anak. Oleh sebab itu, ia tidak merasa terlindungi sehingga lari pada kelompok sebayanya yang sama-sama merasakan “kepekatan nilai-nilai moral” dalam kehidupan keluarga. Ini merupakan awal dari penghayatan anak untuk membangun dunianya yang kokoh dalam berperilaku yang menyimpang. Ia memiliki perilaku tersebut dari imitasi terhadap perilaku anggota keluarga yang penuh kontradiktif, yaitu dari bapaknya yang berperilaku menyimpang dan dikukuhkan oleh perilaku temannya. Dengan demikian, lingkungan keluarga merupakan lingkungan fenomenal, yaitu lingkungan yang sepertinya berada di luar penghayatan anak yang tidak merasakan adanya kaitan sama sekali dengannya, tidak akrab dengannya, tidak terkesan, dan tidak ada pengaruh yang dirasakannya (Soelaeman 1994).
Singgih D. Gunarsa, dengan dua hasil penelitiannya (1979:20) , menyatakan bahwa anak kecanduan terhadap narkotika sebagai pelarian dari situasi dan kondisi rumah yang dirasakan hanya sebagai terminal dan tempat berteduh. Pertengkaran selalu terjadi dirumah, dan ia sering dicaci maki oleh kedua orang tua sehingga ia merasa tidak berharga di rumah.
Nilai-nilai Sosial
Bagi seorang anak yang telah memiliki bangunan diri yang menurutnya kukuh, jika orang tua atau orang lain melakukan penanaman nilai-nilai sosial yang dirasakan mendikte dirinya maka dia tidak segan-segan untuk melawan. Sebaliknya, jika ia mengikuti keinginan orang tua dan atau orang lain yang bertentangan dengan dunianya, hal itu dirasakan sebagai pelecehan terhadap dirinya sendiri dan dia merasakan harga dirinya diinjak-injak. Hal itu terjadi karena dia akan memperoleh pelecehan atau caci maki dari kelompoknya (kestabilan dalam kelebihan). Bangunan diri ini terjadi karena realitas, yaitu hasil imitasi anak dari perilaku bapaknya dan hal itu dikokohkan oleh sahabat karibnya (dalam melakukan penyimpangan nilai-nilai moral). Selanjutnya, ibu kurang dapat mempertautkan diri dengannya, karena intensitas upanya terhadap anak perempuan lebih tinggi dibandingkan kepada anak lelakinya. Oleh sebab itu, antara ia dengan orang tua dalam komunikasi tetap bersikukuh dalam dunianya masing-masing, yang kian hari semakin kokoh untuk menghuni dunianya. Mereka (anak dan orang tua) berjalan seiring bagaikan rel kereta api, tetapi tidak pernah bertemu ( senantiasa berada di persimpangan jalan).
Nilai-nilai Ilmiah
Penelitian menunjukan bahwa pemahaman anak dalam menyikapi cara belajar dan menyadari manfaat ilmu pengetahuan(tidak pernah belajar, pergi main baik di siang hari maupun malam hari sehingga putus sekolah) merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai ilmiah yang diapresiasi secara naluri.
Orang tua dirasakan tidak memperdulikan keberadaan sang anak, terutama mengenai ..... Keadaan ini diperparah oleh salah satu dari kedua orang tua (bapak) yang asyik dalam dunianya sendiri yang merupakan lahan bagi anak untuk meniru apa yang dilakukan sang bapak. Hal ini diperkuat oleh teman pergaulannya sehingga mereka malas masuk sekolah dan belajar, bahkan sampai putus sekolah.
Perilaku anak yang menyimpang, dalam hal ini yang berhubungan dengan pendidikannya, sebenarnya sangat disadari oleh sang orang tua. Maka dari itu, orang tua berusaha untuk mengembalikan anak untuk kembali rajin belajar dan masuk sekolah dengan menggunakan otoritasnya. Namun upaya orang tua dirasa percuma apabila mereka tidak bisa menjaga konsistensinya dalam berkata-kata dan dalam perbuatannya sehari-hari. Hal ini hanya akan membuat anak merasa dipaksa menuruti apa yang orang tua mereka inginkan.
Anak dan orang tua yang berada dalam lingkaran ini, jika melakukan diskusi atau berdialog, anak senantiasa merasa terusik, didikte, dan hanya akan menimbulkan perlawan dan pertentangan dari sang anak. Baik orang tua maupun anak, keduanya berdiri pada dunianya masing-masing sehingga saling mengadakan proteksi dan bahkan menutup diri. Golmen (1995) menyatakan bahwa ucapan anggota keluarga yang kontradiktif dengan perilakunya merupakan awal terjadinya ketertutupan terhadap kedekatan diantara mereka sehingga tidak dapat mendekatkan diri satu sama lain.
Nilai-nilai Ekonomi
Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa tanggapan anak dalam menyikapi cara menilai uang, anak tidak pernah terpanggil untuk belajar mencari atau mendapatkan uang dengan jerih payahnya sendiri. Bahkan mereka tidak segan untuk mengambil uang milik ibunya tanpa izin. Hal ini merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai ekonomi yang diapresiasi secara naluri.
Bagi anak yang senang melakukan hura-hura, sering mengambil uang ibunya, dan tidak pernah membantu orang tua untuk mengais rezeki, hal itu dianggap wajar oleh mereka. Penyebabnya yaitu wibawa sang ibu tertutup oleh perilaku menyimpang sang bapak. Hal ini diperparah oleh intensitas perhatian sang ibu dan pelarian anak kepada kelompok (teman bermainnya) yang justru mengajak pada kehidupan bebas yang penuh dengan hura-hura semata.
Nilai-nilai Demokrasi
Menurut penelitian menunjukan bahwa tanggapan dari anak dalam menyikapi otoritas orang tua (tidak takut dan bahkan melawan jika orang tua dianggap mengusik dunianya) merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai demokrasi yang diapresiasi secara naluri.
Seorang anak yang telah memiliki pendirian yang kuat, menurutnya wajar jika melawan orang tua atau orang lain yang dirasa suka mendikte setiap perbuatan yang ia lakukan. Sebaliknya, jika ia akan mengikuti keinginan orang tua atau orang lain yang bertentangan dengan dunianya, hal itu ia anggap sebagai melecehkan dan menginjak-injak harga dirinya. Sikap anak tersebut dibangun dari perilaku orang tua yang tertutup dan berindikasi permusuhan sehingga ditiru oleh perilaku si anak. Anak tipe ini, tidak segan-segan untuk melawan atau bertengkar jika terdapat perbedaan pendapat atau ketidaksesuaian dengan dunianya. Ini menunjukan bahwa anak tidak memiliki kemampuan untuk menerima pendapat orang lain, terutama yang bertolak belakang dengan dunianya. Hal ini sejalan dengan pendapat Nelson (1991) yang menyatakan bahwa orang tua yang tidak dapat melakukan hubungan yang intim dan penuh keterbukaan akan mengakibatkan matinya pengakuan anak terhadap otoritasnya.
Nilai-nilai Kebersihan an Keteraturan
Menurut penemuan peneliti menunjukkan bahwa tanggapan anak dalam menyikapi bahwa dirinya tidak perlu membantu orang tua dalam membersihkan rumah merupakan realisasi dari kepemilikan nilai-nilai kebersihan dan keteraturan yang di apresiasi secara naluri. Anak merasa bahwa dirinya tidak perlu melakukan hal tersebut karena menurutnya itu bukan merupakan tugasnya. Orang tua cenderung tidak tegas dan kurang percaya terhadap anak apabila anak ikut serta dalam kegiatan membersihkan dan menata ruangan. Sosok ibu yang cenderung melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa ingin dibantu oleh anak dan ayah yang tidak ikut membantu ibu membuat penyimpangan di diri anak dalam hal nilai-nilai kebersihan dan keteraturan semakin kuat. Hal tersebut terjadi karena anak meniru perilaku sang ayah yang diperkuat oleh perilaku teman-teman dekatnya.
Nilai-nilai Agama
Menurut penemuan peneliti menunjukkan bahwa tanggapan anak dalam menyikapi nilai-nilai agama (nyaris tidak salat, mengaji, puasa, dan hanya salat pada hari raya serta berani terhadap orang tua) merupakan realisasi kepemilikannya terhadap nilai agama yang diapresiasi secara naluri. Anak menganggap bahwa hal tersebut wajar karena tidak adanya stimulasi dari orang terdekat terutama orang tua dalam menanamkan nilai nilai agama. Hal tersebut diperparah dengan perilaku orang tua yang melakukan penyimpangan.Terlebih jika teman dekat anak juga melakukan penyimpangan yang sama.
Seperangkat Prinsip yang Digunakan Orang Tua yang Mampu Membantu Anak Memiliki dan Mengembangkan Dasar-dasar Disiplin Diri
Prinsip yang digunakan oleh orang tua agar mampu membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri antara lain adalah keteladanan diri, kebersamaan orang tua dan anak dalam merealisasikan nilai-nilai moral, demokratisasi dan keterbukaan dalam kehidupan dan suasana dalam keluarga, kemampuan diri untuk menghayati dunia anak, serta kesatuan perilaku dan upaya.
Dengan deikian tercipta adanya peraturan terhadap pelanggaran nilai-nilai moral yang telah dibuat dan ditaati bersama-sama dalam keluarga dan adanya kontrol terhadap perilaku anak agar dapat meningkatkan nilai-nilai moralnya.
Komentar
Posting Komentar