Langsung ke konten utama

Budaya di Sekolah

TUGAS PROGRAM PENGEMBANGAN PAUD
BUDAYA SEKOLAH


Oleh
Hidayatul Nuril Badriyah (14111241023)
Alfionita Caha Buana (14111241037)
Nurlalia Rahmawati Septiana (14111241049)
Nur Ulfaatin A’ini (14111241059)
Itsnaini Asfiyaturrofiah (14111244001)
Nurhafizah (14111244005)
Hikmatul Husna (14111244015)
Ratunesi Ballerina (14111244022)

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSTAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2017/2018
 Budaya Sekolah
Pengertian Budaya Sekolah
Menurut Zamroni (2011:111) memberikan batasan bahwa budaya sekolah adalah pola nilai-nilai, prinsi-prinsip, tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, dikembangkan sekolah dalam jangka waktu yang lama dan menjadi pegangan serta diyakini oleh seluruh warga sekolah sehingga mendorong munculnya sikap dan perilaku warga sekolah. Warga sekolah menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional terdiri dari peserta didik, pendidik, kepala sekolah, tenaga pendidik serta komite sekolah.
Unsur-unsur  budaya
Menurut Ahyar mengutip Sastrapratedja ada dua kategori sebagai berikut :
Unsur yang kasat mata/visual, terdiri visual verbal dan visual material.
Visual verbal meliputi
Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran
Visi, misi, tujuan, dan sasaran merupakan hal yang ingin dicapai oleh suatu lembaga
Kurikulum
Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Menurut Pratt,  kurikulum adalah sebuah system. Sebagai suatu system, ia pasti mempunyai komponen-komponen atau bagian-bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan. Komponen-komponen dalam sebuah system bersifat harmonis, tidak saling bertentangan.
Kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan akan direncanakan mempunyai unsur-unsur pokok tujuan, isi, organisasi dan strategi.
Tujuan
            Kurikulum adalah suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan.Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala keiatan pendidikan yang dijalankan.Berhasil atau tidaknya program pengajaran disekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyak pencapaian tujuan-tujuan tersebut.Dalam setiap kurikulum sekolah, pasti dicantumkan tujuan-tujuan pendidikanyang akan atau harus dicapai oleh sekolah yang bersangkutan.
a. Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan
            Tujuan ini biasanya meliputi aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diharapkan dimiliki oleh para lulusan yang bersangkutan.Itulah sebabnya tujuan ini disebut tujuan institusional atau kelembagaan.
b. Tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi
            Tujuan ini adalah penjabaran tujuan institusional diatas yang meliputi tujuan kurikulum dan instruksional yang terdapat dalam setiap GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) tiap bidang studi. Baik tujuan kurikulummaupun instruksional juga mnecakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diharapkan dimiliki anak setelah mempelajari tiap bidang studi dan pokok bahasan dalam proses pengajaran.
Isi
            Isi program kurikulum adalah sesuatu yang diberikan kepada anak dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan.Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut.Jenis-jenis bidang studi ditentukan atas dasar tujuan institusional sekolah yang bersangkutan. Jadi, ia berdasarkan kreteria apakah suatu bidang studi menopang tujuan atau tidak. Berdasarkan kreteria itu maka jenis bidang studi yang diberikan pada suatu sekolah, misalnya SMA akan berbeda dengan sekolah yang lain, misalnya SPG.
            Isi program suatu bidang studi yang diajarkan sebenarnya isi kurikulum itu sendiri atau ada juga yang menyebutnya sebagai silabus. Silabus biasanya dijabarkan dalam bentuk pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan, sertan uraian bahan pelajaran.Uraian bahan pelajaran inilah yang dijadikan dasar pengambilan bahan dalam setiap kegiatan belajar mengajar di kelas oleh pihak guru. Penentuan pokok-pokok dan sub-sub pokok bahasan didasarkan pada tujuan instruksional.
3. Organisasi
            Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Organisasi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur horizontal dan struktur vertical. Struktur horizontal berhubungan dengan pengorganisasian kurikulum dalam bentuk penyusunan bahan-bahan pengajaran yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk penyusunan mata-mata pelajaran itu dapat secar terpisah (separate subject), kelompok-kelompok mata pelajaran (correlated), atau penyatuan seluruh pelajaran (integrated). Tercakup pula di sini adalah jenis-jenis program yang dikembangkan di sekolah, yaitu misalnya program pendidikan umum, akademis, keguruan, keterampilan, dan lain-lain.
            Struktur vertical berhubungan dengn masalah pelaksanaan kurikulum di sekolah.Misalnya apakah kurikulum dilaksanakan demgan system kelas, tanpa kelas, atau gabungan antra keduanya, dengan system unit waktu semester atau catur wulan.Termasuk dalam hal ini adalah juaga masalah pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi untuk tiap tingkat.Misalanya bidang studi bahasa Indonesia, diberikan selama berapa jam tiap minggu pada SMP/SMA kelas I. II, dan III. Demikian pula halnya dengan bidang-bidang studi yang lain.
4.Strategi
Dengan komponen strategi dimaksudkan strategi pelaksanaan kurikulum di sekolah. Masalah strategi pelaksanaan itu dapat dilihat dalam cara yang ditempuhdalam meaksanaan pengajaran, penilaian, bimbingan dan konseling, pengaturan kegiatan sekolah secara keseluruhan, pemilihan metode pengajaran, alat atau media pengajaran, dan sebagainya. Dalam pelaksanaan pengajaran misalnya dilakukan dengan pendekatan PPSI (berlaku untuk seluruh bidang studi) atau dengan cara lain seperti system pengajaran modul, paket pengajaran, dan sebagainnya.
Bahasa dan Komunikasi,

Bahasa merupakan cara untuk menyampaikan suatu maksud kepada orang lain yang biasa disebut dengan komunikasi. Dengan kata lain, bahasa merupakan alat komunikasi.

Narasi Sekolah dan Tokoh-tokoh

Merupakan deskripsi mengenai sekolah dan tokoh-tokoh yang memengaruhi budaya di sekolah tersebut. Misalnya pada sekolah yang berbasis agama seperti ABA yang merupakan seolah dari yayasan Muhammadiyah, budaya di sekolah tersebut dipengaruhi tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan.

5) Struktur Organisasi

Struktur organisasi adalah suatu susunan komponen-komponen atau unit-unit kerja dalam sebuah organisasi. Struktur organisasi menunjukan bahwa adanya pembagian kerja dan bagaimana fungsi atau kegiatan-kegiatan berbeda yang dikoordinasikan. Dan selain itu struktur organisasi juga menunjukkan mengenai spesialisasi-spesialisasi dari pekerjaan, saluran perintah maupun penyampaian laporan.

6) Ritual dan Upacara Sekolah
Membantu membuat budaya yang tidak berwujud dan kompleks dapat dimengerti dan dipahami. Hal ini memungkinkan kita untuk melakukan upaya memahami makna dan nilai-nilai yang lain yang kadang sulit untuk dimengerti dan dipahami. Peristiwa komunal membantu menjaga ikatan kebersamaan kita. Aktivitas tradisi sosial adalah ekspresi lahiriah dari makna budaya yang lebih dalam budaya dan nilai-nilai inti, di balik ekspresi lahiriah tersebut. Makna mendalam  budaya sekolah, dapat diibaratkan skenario dari film, penilaian juri pada konser, atau hasil seni kriya dan  nilai seni serta senimannya (Deal dan Kennedy, 1982).

Prosedur Belajar Mengajar
Sikap atau perilaku yang dalam suatu pembelajaran d sekolah.
Contoh: budaya yang biasa diterapkan guru biasa mengajar dengan tegas akan menghasilkan murid yang disiplin
Peratutan, Sistem Ganjaran dan Hukuman

Adanya peraturan memberikan suatu ketegasan di dalam suatu proses atau kelompok. Peraturn dapat mencakup larangan, hukuman, dan ganjaran. Semua dibentuk agar menciptakan kedisplinan dan konsistensi antar anggota sekolah tersebut.

Pelayanan Psikologi Social
Menurut Hubert Bonner dalam bukunya “Social Psychology”, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.
Jadi, pelayanan psikologi sosial adalah suatu lembaga yang memberikan suatu pelayanan kepada pelanggan terhadap tingkah laku dan hubungan sosialnya.
Di sekolah biasanya memberikan pelayanan psikologi sosial bagi siswanya, sebagai contoh diadakannya suatu lembaga konseling bagi siswa untuk membimbing dan membantu siswa supaya dapat memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain sehingga akan meningkatkan hubungan yang efektif dengan orang lain serta dapat berdamai dengan diri sendiri serta dapat menyelesaikan maslaah.
Pola Interaksi Sekolah dengan Orangtua.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah (guru), orangtua murid,masyarakat, dan pemerintah. Dengan demikian, semua pihak yang terkait harus senantiasamenjalani hubungan kerja sama dan interaksi dalam rangka menciptakan kondisi belajar yangsehat bagi para murid. Interaksi semua pihak yang terkait akan mendorong murid untuk senantiasa melaksanakan tugasnya sebagai pelajar, yakni belajar dengan tekun dan bersemangat. Interaksi yang mutlak harus dilaksanakan yang secara langsung dapat mewujudkan aktivitas belajar yang baik, yakni interaksi antara guru dan murid. Interaksi yang dimaksud mengindikasikan terpadunya dua jenis kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kerjasama pengawasan antara guru dan orangtua murid tersebut dimaksudkan agar aktivitas keseharian setiap murid tidak larut dalam aktivitas yang dapat mengganggu aktivitas belajarnya. Hubungan timbal balik antara orangtua dan guru yang benilai informasi tentangsituasi dan kondisi setiap murid akan melahirkan suatu bentuk kerja sama yang dapatmeningkatkan aktivitas belajar murid baik di sekolah maupun di rumah.



Unsur visual material meliputi :
Fasilitas dan Peralatan,
Fasilitas merupakan segala sesuatu yang bisa mempermudah upaya serta memperlancar kerja dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu baik berupa benda maupun jasa.
Artifak dan Tanda Kenangan,
Artefak adalah manifestasi dari nilai- nilai budaya.Artefak ini termasuk unsur budaya sekolah yang mudah diamati dan disadari, misalnya dengan mudah kita bisa melihat seragam, lukisan, patung, dinding atau batu peresmian berdiri bangunan, dan lain sebagainya.
Sama seperti membangun suatu budaya sekolah, maka artefak ini dapat digunakan untuk menanamkan nilai- nilai tertentu








Asumsi Dasar
Asumsi dasar merupakan inti dari budaya organisasi ini berarti organisasi dalam banyak hal di pengaruhi oleh asumsi dasar yang ada didalam organisasi tersebut.Asumsi dasar sangat dipengaruhi oleh pendiri sekolah atau yayasan dimana nilai-nilai yang dibawa oleh pendiri organisasi akan banyak berpengaruh dalam membentuk asumsi dasar. Selain dipengaruhi oleh pendiri sekolah asumsi dasar juga terbentuk dalam proses yang cukup panjang, mungkin ketika sebuah sekolah/yayasan baru terbentuk.
Asumsi dasar adalah sesuatu yang elusive atau hidden dimana keberadaanya sulit untuk dilihat dan diamati. Asumsi dasar biasanya sulit untuk diterjemahkan dan dirasakan berbeda dengan nilai atau artefak. Biasanya asumsi dasar menjadi sesuatu yang tanpa sadar melekat pada siswa dan mempengaruhi setiap tindak tanduk kehidupan kita.
Nilai
Nilai secara spesifik adalah keyakinan yang dipegang teguh seseorang atau sekelompok orang mengenai tindakan dan tujuan yang seharusnya dijadikan landasan atau identitas sekolah dalam menjalankan aktifitas bisnis, menetapkan tujuan-tujuan  sekolah.
Dalam kutipan diatas bisa kita simpulkan bahwa nilai-nilai sekolah adalah sebuah standar untuk melakukan tindakan, penilaian, menentukan keputusan, berargumentasi dan bersikap dalam sebuah sekolah.
Artefak
Artefak  adalah elemen budaya yang secara langsung bersinggungan dengan pihak eksternal berbeda dengan nilai dan asumsi dasar. Artefak merupakan suatu bentuk komunikasi budaya antara orang-orang yang ada di dalam sekolah dengan orang-orang yang berada diluar sekolah.

Seragam Sekolah
Seragam digunakan sebagai ciri identitas dari suatu lembaga. Pakaian seragam yang digunakan oleh pihak sekolah baik murid maupun guru dalam sebuah sekolah dapat menunjukan bagaiaman budaya perusahaan tersebut, contohnya jika sekolah menggunakan pakaian non formal maka kita bisa berasumsi bahwa budaya organisasi tersebut mengandung nilai-nilai egaliterian.

Unsur yang tidak kasat mata meliputi filsafat atau pandangan dasar sekolah.
 Filsafat atau pandangan dasar sekolah
Filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup atau yang di anggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Dan itu harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih kongkrit yang akan di capai oleh sekolah.
Menurut Ajat Sudrajat
Menurut Ajat Sudrajat (2011:13) mengutip pendapat Nursyam, setidaknya ada tiga budaya yang perlu dikembangkan di sekolah, yaitu kultur akademik, kultur sosial budaya, dan kultur demokratis.
Kultur Akademis
Kultur akademik lebih menekankan pada budaya ilmiah yang ada dalam diri seseorang dalam berfikir, bertindak dan bertingkah laku dalam lingkup kegiatan akademik.
Ciri-ciri warga sekolah yang menerapkan budaya akademik yaitu bersifat kritis, objektif, analitis, kreatif, terbuka untuk menerima kritik, menghargai waktu dan prestasi ilmiah, memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah, dinamis, dan berorientasi ke masa depan.
Kultur Sosial Budaya


Kultur Demokratis
Kultur demokratis menampilkan corak berkehidupan yang mengakomodasi perbedaan untuk secara bersama membangun kemajuan suatu kelompok maupun bangsa. Warga sekolah selalu bertindak objektif dan transparan pada setiap tindakan maupun keputusan.
Kultur demokratis tercermin dalam pengambilan keputusan dan menghargai keputusan, serta mengetahui secara penuh hak dan kewajiban diri sendiri, orang lain, bangsa dan negara.
Hal-hal Yang Perlu Dikembangkan Dalam Menciptakan Budaya Sekolah Yang Unggul
Keberadaan budaya sekolah di dalam sebuah sekolah merupakan urat nadi dari segala aktivitas yang dijalankan warga sekolah mulai dari guru, karyawan, siswa dan orang tua. Budaya sekolah yang didesain secara terstruktur, sistematis, dan tepat sesuai dengan kondisi sosial sekolahnya, pada gilirannya bisa memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia sekolah dalam menuju sekolah yang berkualitas. Ada tiga hal yang perlu dikembangkan dalam menciptakan budaya sekolah yang berkualitas, yaitu:
1. Budaya keagamaan (religi) :
Menanamkan perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah)
Bentuk Kegiatan :
Budaya Salam, Doa sebelum/sesudah belajar, Doa bersama, Sholat Berjamaah (bagi yang beragama islam), peringatan hari besar keagamaan, dan kegiatan keagamaan lainnya.
2. Budaya kerjasama (team work) :
Menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial terhadap sesama melalui kegiatan yang dilakukan bersama.
Bentuk Kegiatan:
MOS, Kunjungan Industri, Parents Day, Baksos, Teman Asuh, Sport And Art, Kunjungan Museum, Pentas Seni, Studi banding, Ekskul, Pelepasan Siswa, Seragam Sekolah, Majalah Sekolah, Potency Mapping, Buku Tahunan, PHBN, (Peringatan hari Besar Nasional), dan PORSENI.
3. Budaya kepemimpinan (leadhership) :
Menanamkan jiwa kepemimpinan dan keteladanan dari sejak dinikepada anak-anak. Bentuk Kegiatan :
Budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas, budaya Kreatif; Mandiri & bertanggung jawab, Budaya disiplin/TPDS, Ceramah Umum, upacara bendera, Olah Raga Jumat Pagi, Studi Kepemimpinan Siswa, LKMS (Latihan Keterampilan manajemen siswa), Disiplin siswa, dan OSIS




Daftar Pustaka
http://zegavon2go.blogspot.co.id/2016/11/panduan-lapangan-pembentukan-budaya_11.html?m=1
http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.pengertianku.net/2015/06/pengertian-struktur-organisasi-dan-fungsinya.html&ei=YGjvT3bw&lc=id-ID&s=1&m=814&host=www.google.co.id&ts=1487745339&sig=AJsQQ1DQgfa0RhQQ7DB_Z3Jbt_GTa8JdUQ
https://jongprawira.wordpress.com
http://www.academia.edu/11245147/PSIKOLOGI_PELAYANAN
http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-sosial/
http://www.artikelsiana.com/2015/02/pengertian-kurikulum-fungsi-komponen.html?m=1#
http://www.academia.edu/4394403/HUBUNGAN_KERJASAMA_ANTARA_GURU_DAN_ORANGTUA








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Pengembangan Sekolah (RPS)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Perencanaan merupakan modal utama sekolah atau organisasi dalam menata pemanfaatan sumber daya yang di milikinya secara efektif, efisien, berkualitas, dan releven sehingga dapat mencapai tujuan dengan memuaskan bagi seluruh yang terlibat. Merencanakan adalah menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada kurun waktu yang ditentukan. Kegiatan dimaksudkan untuk menata waktu, mengatur atau memperhitungkan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan memuaskan. Rencana Pengembangan Sekolah merupakan salah satu wujud dari salah satu fungsi manajemen sekolah yang amat penting, yang harus dimiliki sekolah untuk dijadikan sebagai panduan dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Setiap kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua, bahkan masyarakat tentu berharap sekolahnya berkembang. Untuk itu perlu disusun rencana pengembangannya. Rencana pengembangan sangat penting, karena akan dijadikan landasan kerja seluruh staf, sehingga...

Pembelajaran dengan teori High Scope

MAKALAH PENDEKATAN PEMBELAJARAN HIGH SCOPE Disusun oleh : Evania Istiqomah 14111241042 Isti Yuli A. 14111241045 Sholihah Nur Aeiny 14111241050 Megan Faiferin 14111241053 Hana Ika Safitri 14111244003 Hikmatul Husna 141112414015 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa emas (golden age) perkembangan,ialah masa usia dini (masa lahir sampai delapan tahun) sebagai saat kritis dalam rentang perkembangan telah dipahami oleh banyak orangtua dan masyarakat. Dampaknya adalah pendidikan anak usia dini (PAUD) mengalami perkembangan pesat. Hal ini ditandai dengan terus bertambahnya jumlah lembaga PAUD dijalur formal dan non formal. Persepsi tentang pentingnya golden age,yaitu 80% kapasitas perkembangan dicapai pada usia dini (lahir sampai delapan tahun), sedangkan selebihnya (20%) diperoleh setelah usia delapan tahun belum tepat dan benar. Akibatnya ,ba...

Pembelajaran Regio Emilia

MODEL PEMBELAJARAN REGGIO EMILIA APPROACH Sejarah Reggio Emilia Approach diciptakan oleh Loris Malaguzzi dan para orang tua di daerah sekitar Reggio Emilia di Italia setelah Perang Dunia II. Pendekatan Reggio  Emilia dikembangkan untuk pengasuhan dan program pendidikan melayani anak yang dirancang untuk usia sejak lahir sampai enam tahun. Pengertian Reggio Emillia Approach (REA) adalah model pembelajaran yang menjadikan metode proyek sebagai metode utama dalam pembelajaran (Abramsori dkk,1995). Selain metode proyek, pada pendekatan Reggio Emillia belajar juga dipandang sebagai sebuah perjalanan dan pendidikan sebagai usaha membangun hubungan dengan orang-orang serta menciptakan hubungan antara ide-ide dan lingkungan. Metode proyek adalah suatu proses pendidikan yang menarik yaitu murid memecahkan masalah penting berupa pekerjaan besar secara bersama-sama dalam satu tim dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Region Emillia merupakan sebuah pendekatan yang berlandaskan pada...